• Ramadhan

    BERQURBAN YUK

    Dari Abul Aswad As-Sulami dari ayahnya, dari kakeknya, berkata: Saat itu kami bertujuh bersama Rasulullah saw, dalam suatu safar, dan kami mendapati hari Raya ‘Idul Adha. Maka Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk mengumpulkan uang setiap orang satu dirham. Kemudian kami membeli kambing seharga 7 dirham. Kami berkata:” Wahai Rasulullah Saw. harganya mahal bagi kami”. Rasulullah Saw. bersabda:” Sesungguhnya yang paling utama dari qurban adalah yang paling mahal dan paling gemuk”. Kemudian Rasulullah saw. memerintahkan ...... (HR Ahmad dan Al-Hakim).

    http://www.motekar-lihay.co.cc/?p=250
  • Tarekat

    Mengenal Tarekat Qodariyah wa Naqsabandiyah

    Para ahli mistik dalam berbagai tradisi keagamaan cenderung menggambarkan langkah-langkah yang membawa kepada kehadirat Tuhan sebagai jalan. Pembagian 3 (tiga) jalan dalam agama Islam menjadi Syariat,Tarekat dan Hakikat. Jalan tri tunggal kepada Allah dijelaskan dalam suatu hadis Rasulullah SAW. sebagai berikut : Syariat adalah perkataanku (aqwali), tarekat adalah perbuatanku (Ahwali), dan hakikat adalah keadaan batinku (Ahwali). (anemari h. 123).

    http://www.motekar-lihay.blogspot.com/?p=250
  • Ramadhan

    Ramadhan

    "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan ... (Al-Baqarah: 183-184)

    http://www.motekar-lihay.co.cc/?p=250
  • Ramadhan

    Barokah Sahur

    Dari Salman radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya): "Barokah itu ada pada tiga perkara: Al-Jama'ah, Ats-Tsarid dan makan sahur" Keberadaan sahur sebagai barakah sangatlah jelas, karena dengan makan sahur berarti mengikuti sunnah, menguatkan dalam puasa, menambah semangat untuk menambah puasa karena merasa ringan orang yang puasa ...

    http://www.motekar-lihay.co.cc/?p=250
  • Ramadhan

    Membaca Al-Quran

    Mudarasah antara Nabi dan Jibril terjadi pada malam hari. Ini menunjukkan dianjurkannya banyak-banyak membaca Al-Qur'an di bulan Ramadhan pada malam hari, karena malam merupakan waktu berhentinya segala kesibukan, kembali terkumpulnya semangat dan bertemunya hati dan lisan untuk merenungkan. Seperti dinyatakan dalam firman Allah: "Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu'), dan bacaan di waktu itu lebih berkesan." ... (Al-Muzzammil: 6)

    http://www.motekar-lihay.co.cc/?p=250
  • Tawasul

    Tawasul

    Sesungguhnya Allah dan MalaikatNya bershalawat pada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bacalah shalawat dan salam pada Nabi SAW dengan sesungguhnya. (al ahzab: 56).Ya Alloh,Limpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad S.A.W, kepada keluarganya yang suci. Dan keselamatan bagi para kekasihmu (Waliulloh), dan kepada kami, ...

    http://www.motekar-lihay.co.cc/?p=250
  • Tuhan Aku Berdoa Pada-Mu

    Tuhan Aku Berdoa Pada-Mu

    “Tidak ada seorang muslim yang berdoa melainkan akan dikabulkan, ada kalanya disegerakan didunia, ada kalanya disimpankannya untuknya di akhirat. Dan ada kalanya digunakan untuk menghapuskan dosa-dosanya sesuai dengan kadar doa yang ia ucapkan selama ia tidak berdoa untuk dosa atau memutuskan tali persaudaraan”.Ya Tuhan, Ampuni Segala Dosaku dan Dosa Kedua Orang Tuaku dan Kasihanilah Keduanya Sebagaimana Mereka Telah Mendidikku Sewaktu Kecilku,...

    http://www.motekar-lihay.co.cc/?p=250
  • Berdzikir

    Berdzikir

    Sesungguhnya Shalat itu adalah untuk berdzikir (mengingat) kepadaku. Maka Berdzikirlah sebanyak-banyak diwaktu pagi dan petang. Ingatlah, Dengan Berdzikir Kepada Tuhan akan Menenangkan Hati,...

    http://www.motekar-lihay.co.cc/?p=248
  • Bekerjalah Semampumu

    Bekerjalah Semampumu

    Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” ...(At-Taubah [9]: 105)

    http://www.motekar-lihay.co.cc/?p=246
Yanto Permana

PEMBERDAYAAN UMAT SEBAGAI SUBJEK BUDAYA

Selasa, 28 Juni 2011


PEMBERDAYAAN UMAT SEBAGAI SUBJEK BUDAYA
Rodliyah Khuza’i*

ABSTRAK
 Arus pemikiran postmodernisme akan merambah ke relung-relung pemikiran manusia di mana pun mereka berada, ia akan berpengaruh dan ikut mewarnai hubungan antar agama, hubungan antar kebudayaan, dan peradaban sekaligus.
Pemikiran dasar postmodernisme yang memiliki tiga karakter utama: Dekonstruksi, pluralisme, dan relativisme dapat dijadikan sebagai “metodologi” untuk memahami agama secara luas sekaligus sebagai wahana “ijtihad kolektif”. Dengan demikian agama dapat berperan sebagai filter dari berbagai pengaruh negatif dari proses modernitas dan postmodernisme itu sendiri, dan dapat memperkokoh serta memperkuat budaya bangsa dan kehidupan beragama.
Kata Kunci: Postmodernisme: Dekonstruksi, Pluralisme, Relativisme; Pornografi.

_____________________________________________________________________

 

A. Pendahuluan

Jaminan Allah atas kaum Muslimin dinyatakan tegas dalam al-Quran sebagai umat yang terbaik (Q.S. Ali Imran, 3: 110)[1]. Ayat ini menggambarkan kaum Muslimin yang ideal. Setelah keyakinan Islam dibangun, kaum Muslimin telah berhasil membangun sebuah masyarakat baru, melalui pergeseran waktu membawa serta institusi-institusinya yang khas, seni dan sastranya, ilmu dan kesarjanaannya, bentuk-bentuk politik dan sosialnya, sistem peribadatan dan keyakinannya, semuanya memberi kesan yang jelas Islami.[2]
Kaum Muslimin masih harus mengimplementasikan ramalan dan jaminan al-Quran secara penuh dengan segala implikasinya. Tetapi mereka telah secara perenial memperbaharui kembali harapan dan usaha-usaha mereka untuk menjalankan kehidupan yang saleh bukan saja sebagai individu tetapi juga sebagai sebuah masyarakat. Dalam setiap masa, kaum Muslimin yang saleh telah menegaskan kembali keyakinan mereka, menurut situasi dan kondisi baru yang telah muncul dari keberhasilan maupun kegagalan masa lalu. Visi ini tidak pernah sirna, dan pengembaraan tidak pernah dicampakkan; harapan dan usaha-usaha ini masih tetap hidup di dunia modern ini.
Sejarah Islam sebagai sebuah keyakinan, dan sejarah budaya yang intinya telah dibentuk, mengambil sumber kesatuan dan maknanya yang unik dari visi dan pengembaraan tersebut.
Barangkali timbul keraguan tentang relevansi cita-cita tersebut terhadap realitas sejarah. Mampukah suatu masyarakat dunia betul-betul dibangun secara efektif atas dasar kesetiaan pada pandangan ketuhanan? Atau haruskah masyarakat berkembang hampir tanpa memperhatikan cita-cita atau kepedulian dari individu-individu, atau kah mencipta dan menghancurkan cita-cita tersebut  sesuai dengan permainan kepentingan kepentingan bersahaja, atau kepentingan lain di luar cita-cita ideal Islam?
Memasuki era globalisasi dan era informasi di mana tidak ada lagi batas-batas yang begitu tegas antara satu bangsa dan bangsa lainnya (unbounded nation), yang dengan sendirinya budaya asing pun masuk tak terbendung melalui jaringan media elektronik maupun media massa, maka penegasan kembali kembali cita-cita ideal Islam merupakan sebuah keniscayaan agar umat Islam tetap survive dan eksis dalam menjawab tantangan zaman. Tulisan ini akan mencoba mengemukakan problem budaya yang dihadapi umat dan solusi untuk mengatasinya.



B. Rumusan Masalah
 
Ada dua fakta yang mencolok tentang dunia ini, ketimpangan yang sangat, di dalam dan di antara bangsa-bangsa, dalam hampir semua kondisi kehidupan manusia, termasuk kekuasaan untuk menentukan kondisi-kondisi kehidupan itu sendiri; dan resistensi ketimpangan kehidupan tersebut terhadap perubahan. Dunia ini terdiri dari negara-negara Pusat dan Pinggiran; negara maju dan berkembang dan tiap negara pada gilirannya, memiliki pusat dan pinggiran.
Berbicara tentang Pusat dan pinggiran, sebenarnya bahasa lain dari imperialisme[3] di mana di dalamnya terkandung hubungan keselarasan kepentingan di satu sisi dan hubungan ketidak selarasan kepentingan, atau konflik kepentingan di sisi lain. Konflik kepentingan, adalah suatu kasus khusus tentang konflik pada umumnya, yang dinyatakan sebagai suatu keadaan di mana golongan-golongan mengejar tujuan-tujuan yang tidak dapat diakurkan.

Konflik kepentingan yang marak dan terus dpromosikan secara gencar dilakukan melalui media. Perbincangan mengenai media dan pornografi dalam konteks masyarakat kontemporer tidak dapat dilepaskan dari perbincangan mengenai bagaimana berbagai prinsip, konsep, pandangan dunia (word view), makna dan nilai-nilai yang berasal dari filsafat postmodernisme. Istilah postmodernisme digunakan dalam berbagai arti. Pada awalnya digunakan dalam bidang arsitektur, kemudian dipakai dalam bidang seni sastra, teori sosial, gaya hidup, filsafat, bahkan agama.[4] Pemikiran postmodernisme adalah menentang segala hal yang berbau kemutlakan dan baku, menolak dan menghindari suatu sistematika uraian atau pemecahan persoalan yang sederhana dan skematis, serta memanfaatkan nilai-nilai yang berasal dari berbagai aneka ragam sumber.[5] Periode postmodernisme juga menciptakan masyarakat baru, sebagai konsekuensi dari masyarakat yang membawa pada persamaan budaya dan menghilangkan perbedaan antara budaya tinggi (high cultural) dan budaya rendah (low cultural)[6]

Upaya pemetaan wilayah pemikiran postmodernisme paling tidak ada 3 (tiga) struktur fundamental yang menjadi tulang punggungnya. Pertama, Deconstructionism (mempertanyakan ulang, membongkar).[7] Era postmodernisme ingin melihat fenomena sosial, fenomena keagamaan, realitas fisika apa adanya, tanpa harus terlebih dahulu terkurung oleh anggapan dasar dari teori “baku” yng diciptakan pada masa “modernisme”, yakni era post-enlightment ingin “diubah”, “diperbaiki” dan “disempurnakan”, oleh para pemikir postmodernisme. Kedua, Relativisme, manifestasi pemikiran postmodernisme dalam hal realitas budaya  (nilai-nilai, kepercayaan, agama, tradisi, dan lain-lain) tergambar dalam teori-teori budaya yang dikembangkan oleh disiplin antropologi. Antropologi berpendapat, tidak ada budaya yang sama dan sebangun antara yang satu dan lainnya. Artinya, semuanya bersifat relatif, tidak absolut.[8] Ketiga, Pluralisme, Akumulasi dari berbagai model dan  mode berpikir di atas adalah disebut era-pluralisme. Era pluralisme budaya, era pluralisme agama, era pluralisme teknologi dan lain-lain. Maksud ungkapan ini adalah sangat sulit untuk mempertahankan “paradigma tunggal-universal-absolut” dalam diskursus apa pun[9]

Mau tidak mau , suka atau tidak suka, arus pemikiran postmodernisme akan merambah ke relung-relung pemikiran manusia di mana pun mereka berada. Cepat atau lambat, pemikiran postmodernisme akan berpengaruh dan ikut mewarnai hubungan antar agama, hubungan antar kebudayaan dan peradaban sekaligus. Persoalannya adalah apakah cara dan model berpikir postmodernisme yang setidaknya, mempunyai tiga ciri terurai di atas akan mengubah, memperlemah atau memperkuat dan memperteguh budaya bangsa dan kehidupan beragama tertentu?

Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijawab secara instant, baik dengan jawaban positif ya maupun jawaban yang bersifat negatif tidak. Banyak faktor yang saling berkait berkelindang antar pola pikir postmodernisme dan pemikiran keagamaan, serta faktor lain yang saling pengaruh mempengaruhi antara keduanya, sehingga sulit menjawab pertanyaan tersebut. Kecuali, jika kita berkeyakinan bahwa kehidupan beragama adalah ibarat kehidupan di sebuah pulau terpencil, yang tidak akan tersentuh atau terpengaruh dengan budaya modern yang merambah di mana-mana. Namun demikian di era postmodernisme masih banyak orang yang berharap bahwa agama dapat berperan sebagai filter dari berbagai pengaruh negatif dari proses modernitas dan postmodernitas itu sendiri.
Mencermati fenomena dan realitas di atas, maka pembahasan akan dirumuskan sebagai berikut:
1.     Sejauh mana fenomena pemikiran postmodernisme telah merasuk ke berbagai aspek kehidupan umat?
2.      Bagaimana seharusnya peran agama, dalam menanggulangi sisi negatif pemikiran postmodernisme?


C. Pembahasan

  1. Sejauhmana fenomena postmodernisme telah merasuk ke berbagai aspek kehidupan umat
Menurut Yasraf Amir Pilliang, perbincangan mengenai media dan pornografi dalam konteks masyarakat kontemporer tidak dapat dilepaskan dari perbincangan mengenai bagaimana berbagai prinsip, konsep, pandangan dunia (world view), makna dan nilai-nilai yang berasal dari filsafat postmodernisme memberi bentuk pada media dan pornografi tersebut. Khususnya, bagaimana ‘tubuh’ digunakan di dalam wacana postmodernisme, sehingga ia berkembang ke arah yang melampaui (hyper) batas-batas moral, norma, etika, budaya, adat, tabu dan agama.[10]
Selain itu perkembangan media – dan penggunaan tubuh di dalamnya – tidak pula bisa dilepaskan dari pengaruh perkembangan kapitalisme – sebagai sebuah ideologi -- yang merupakan perpanjangan tangan imperialisme ke arah apa yang dapat disebut ‘libidomi’ (libidonomics), yaitu sistem ekonomi yang di dalamya terjadi eksplorasi secara ekstrim segala potensi libido sebagai komoditi, dalam rangka mendapatkan keuntungan maksimal (added values). Ideologi ‘libidonomi’ kapitalisme menjadikan ‘tubuh’ – dan segala ‘potensi libido’nya – sebagai titik sentral dalam produksi dan reproduksi ekonomi serta pembiakan kapital.[11] Tubuh tidak hanya dijadikan sebagai komoditi, akan tetapi juga sebagai ‘meta-komoditi’, yaitu untuk menjual komoditi lainnya. Tubuh – khususnya wanita – di dalam wacana kapitalisme tidak saja dieksplorasi nilai gunanya (use value) – pekerja, prostitusi, pelayan, akan tetapi juga nilai tukarnya (exchange value) – gadis model, gadis peraga, hostes, dan kini juga nilai tandanya (sign value) – majalah erotis, erotic art, erotic video, erotic-photograhy, erotic film, erotic vcd; majalah porno, video porno, vcd porno, film porno, cyber porn. Eksplorasi tubuh tersebut berlangsung mengikuti model-model ‘pembiakan secara cepat’ (preliferation) baik dalam cara, bentuk, varian, teknik mapun medianya.[12]
Karena sifatnya persuasif, tentu berjalan tanpa kekerasan, meskipun pesan yang disampaikan isinya penuh dengan kekerasan seksual (sexual violences). Sasaran yang hendak dicapai porno communications, adalah stimulasi terhadap pikiran, sehingga menimbulkan fantasi-fantasi seksual. Pada kebanyakan individu masih dapat membedakan dengan tegas antara fantasi dan realitas. Bagi mereka pornografi kurang begitu berbahaya, karena self kontrol masih dapat bekerja dengan baik, meskipun demikian pikiran tetap keruh untuk beberapa saat lamanya.
Pornografi semakin berbahaya bagi orang-orang yang kurang bisa mengendalikan diri, mengubah fantasi menjadi virtual reality (realitas semu), sehingga ada dorongan terus menerus untuk mewujudkan apa-apa yang ditawarkan di ranah pornografi. Relasi antara fantasi dan realitas saling tumpang tindih dan tak jarang bertukar tempat, sehingga timbul praktek-praktek seksual yang aneh-aneh (sex kinky). Dari sinilah biasanya timbul kejahatan seksual.[13]
Secara etimologis, pornografi berasal dari bahasa Yunani: porne yang berarti wanita penghibur dan grafi yang berasal dari grafos yang berarti gambar wanita penghibur dan tulisan-tulisan yang berkenaan dengan hal itu. Dalam perkembangannya, pornografi berarti ucapan, tulisan, gambar, tampilan dan gerak gerik tubuh yang bertujuan untuk membangkitkan nafsu seksual siapa saja yang mendengar, membaca, dan melihatnya.[14] Di dalam The Fontana Dictionary of Modern Thought, ‘pornografi’ didefinisikan sebagai bentuk representasi (dalam literature, film, video, drama, seni rupa dsb.) yang tujuannya adalah untuk menghasilkan kepuasan seksual. Di pihak lain, ‘pornografi’ didefinisikan sebagai penggunaan reprsentasi perempuan (tulisan, gambar, foto, vidio, film) dalam rangka manipulasi hasrat (desire) orang yang melihat, yang di dalamnya berlangsung proses degradasi perempuan dalam statusnya sebagai ‘objek seksual’ laki-laki.[15] Pada Penjelasan definisi pornografi ada bagian kedua dan ketiga,  mengandung perbedaan makna, yang satu dalam kacamata umum, yang kedua dalam kacamata feminis. Dengan demikian, pornografi terjadi dalam proses komunikasi yang isinya tidak terbatas menyangkut ketelanjangan perempuan, melainkan semua hal yang dirancang untuk dapat membangkitkan birahi.
Tabloid  Boss, Pop, Lipstik, Blitz, Hot atau Bollywood, -- hanya beberapa contoh -- sampul depannya seringkali menampilkan tubuh wanita yang setengah telanjang, pemberitaannya sering juga terjebak dalam perangkap eksplorasi tubuh, beritanya membangkitkan rangsangan dan fantasi-fantasi seksual, sehingga ia cenderung tidak disebut sebagai karya sastra.
Kebebasan, ekspresi total dan pembebasan hasrat yang ditawarkan oleh postmodernisme dekonstruktif mendapatkan respons yang antusias dari berbagai kalangan  anak muda (youth culture) menggunakannya sebagai ruang bagi pelepasan diri dari berbagai bentuk kekangan (seks bebas, pesta seks ABG, seks sekolahan); para pengusaha (kapitalis) menggunakannya untuk meningkatkan daya tarik komoditi (gadis iklan, foto model, gadis pajangan); media menggunakannya sebagai cara untuk meningkatkan daya tarik dan rating (seperti Top, Boss, Hot, Popular, Metropolitan, Mistery); industri hiburan menggunakan peluang untuk menciptakan perbedaan suguhan tontonan (lawak, cheersleader, hostess). Disadari atau tidak semuanya mengusung nilai-nilai yang dibawa oleh wacana postmodernisme dekonstruktif, yang justru memberi ruang yang yang luas bagi pembiakan pornografi[16]
Materi seks di media massa (MSMM) yang secara sengaja ditujukan untuk membangkitkan hasrat seksual dapat mengakibatkan remaja melakukan perbuatan yang tidak sehat seperti melakukan hubungan seks pada usia terlalu dini, seks di luar ikatan pernikahan, pemerkosaan remaja terhadap anak di bawah umur. Perilaku yang tidak sehat ini dapat berdampak negatif pada kesehatan remaja termasuk kesehatan reproduksi bagi remaja. Dan maraknya pornografi di media massa dan penjualan vcd porno bebas mengakibatkan dekadensi moral masyarakat cukup memprihatinkan.
Sementara itu, berbagai investigasi yang dilakukan terhadap perilaku seks masyarakat di Indonesia dan pandangan mereka mengenai norma seksualitas, memperlihatkan berbagai pengaruh nilai-nilai postmodernisme dekonstruktif ini  di dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Sebagai contoh, hasil penelitian yang dilakukan  Sri Moertiningsih Adioetomo Gita Marina Sapruddin terhadap remaja dan pemuda mengenai faktor-faktor sosial yang mempengaruhi pengetahuan, perilaku, dan praktek remaja dan pemuda berkaitan dengan reproduksi sehat, menunjukkan hasil yang sangat fantastis dan sangat memprihatinkan (96 % atau lebih) menyatakan bahwa keluarga, tetangga, dan masyarakat tidak mengucucilkan anak yang dilahirkan di luar nikah.[17] Penelitian ini dilakukan bekerja sama dengan BKKBN, East West Center, Pathfinder/Focus, Bank Dunia dan USAID pada 1988/1999. Dapat kita bayangkan betapa berkembangannya di masa kini; bagaimana hebohnya vcd Bandung Lautan Asmara, Gadis Dago dan lain-lain.

2        Bagaimana seharusnya peran agama, dalam menanggulangi sisi negatif pemikiran postmodernisme?

Agama bukanlah sekedar pikiran, perasaan ataupun tindakan saja, akan tetapi keseluruhan ekspresi (pernyataan) manusia.[18] Dengan pernyataan ini, Iqbal (1877-1934), filsuf dan sufi Muslim India meletakkan nilai-nilai agama tidak hanya pada pikiran, perasaan atau sekedar tindakan belaka, melainkan agama menjadi dasar bagi keseluruhan aktivitas kehidupan manusia.
Pendekatan Iqbal terhadap sistem agama Islam dalam memahami susunan dan penelitian terhadap kehidupan manusia adalah keseluruhan ekspresi kehidupan manusia yang mencakup aspek kehidupan dunia batin dan juga dunia lahir yang didasarkan pada prinsip Tauhid. Kebudayaan Islam dengan demikian, dapat melahirkan suatu kebudayaan yang utuh, padu, tidak terpilah-pilah antara nilai-nilai realitas dengan nilai-nila spiritual melainkan tetap dalam kesatuan spiritual.[19] Dengan demikian, prinsip Tauhid tidak hanya merupakan faktor dominan saja dalam kebudayaan Islam, melainkan menuntut pembuktian menjadi kekuatan ruang dan waktu sebagai prinsip kerja. Jadi, kepercayaan kepada keesaan Allah tidak hanya diterima sebagai sistem kepercayaan saja, melainkan harus menjadi faktor yang hidup di dalam pikiran, perasaan dan tindakan manusia yang bekerja sebagai energi yang mendorong dan memimpin dalam gerak kehidupan manusia.
Al-Quran sebagai panutan utama buat umat Islam, menggambarkan dualisme watak manusia yang menimbulkan perjuangan moral dan potensi-potensi yang dimiliki manusia saja, dengan dua buah cerita yang efektif.
Cerita pertama mengisahkan bahwa ketika Tuhan bermaksud menciptakan manusia sebagai wakil-Nya di atas bumi, para malaikat mengajukan protes dengan mengatakan bahwa manusia yang akan diciptakan itu akan cenderung kepada kejahatan, membuat kerusakan di atas bumi dan menumpahkan darah, sedangkan, mereka sendiri selalu patuh pada kehendak-Nya. Tuhan menjawab, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’. (Q.S. Al-Baqarah, 2: 30)
Cerita kedua, mengatakan ketika Tuhan menawarkan ‘amanah’ kepada langit dan bumi, maka seluruh makhluk menolak untuk menerimanya, dan manusia tampil ke depan untuk menerimanya, dengan mendapat cemoohan yang simpatik dari Tuhan, ‘manusia begitu ceroboh dan jahil’. (Q.S. Al-Ahzab, 32: 72)
Hampir-hampir tak ada karakterisasi yang lebih kena dan efektif  mengenai situasi manusia dan wataknya yang lemah dan mudah terombang-ambingkan daripada kedua cerita tersebut, tetapi pembawaannya yang berani dan kemampuannya untuk melampaui yang aktual menuju yang ideal merupakan keunikan  dan kebesarannya.[20]
Kehadiran Iblis menciptakan suatu dimensi yang sama sekali baru dalam kasus manusia. Meski Tuhan telah menanamkan padanya (yakni jiwa manusia) kemampuan untuk membedakan kebaikan dan kejahatan (Q.S. Al-Syamsi, 91: 8), tetapi pengaruh iblis demikan halus dan kuatnya hingga umumnya gagal untuk memahami persembahan abadi yang disuratkan Allah dalam jiwanya, bahkan mereka yang mampu memahaminya juga gagal untuk bertindak atas dorongannya.[21]


Pada saat-saat kritis seperti itu Allah memilih sekelompok manusia dan diutusnya malaikat “ruh dari perintah yang ada beserta-Nya” Manusia-manusia yang diserahi pesan-pesan yang menentukan nasib manusia adalah para Nabi. Al-Quran yang dikirimkan kepada Nabi Muhammad adalah Kitab yang berisi perintah tersebut. Dengan demikian, dan dengan latar belakang ini, Al-Quran muncul sebagai suatu dokumen yang dari awal hingga akhirnya selalu memberikan semua tekanan-tekanan moral, yang perlu bagi tindakan manusia yang kreatif.[22] Sungguh pada dasarnya, kepentingan sentral Al-Quran adalah pada manusia dan perbaikannya.
Mencermati peran Al-Quran yang begitu sentral bagi kebahagiaan manusia dalam berbudaya, maka umat ini perlu diberdayakan agar dapat memahami Al-Quran secara tekstual dan kontekstual, dengan harapan dapat mengaktualitas dalam seluruh aktivitasnya terutama menghadapi budaya postmodernisme yang cenderung kepada degradasi moral.
Misalnya, larangan Allah untuk berzina[23] mengisyaratkan kehati-hatian atau bahasa lain menjaga lebih baik daripada mengatasi masalah lain yang diakibatkan dari perbuatan mendekati zina. Barangsiapa yang sudah mendekati zina, sulit baginya untuk menarik diri tidak melakukan zina. Pornografi kalau boleh dipadankan, adalah termasuk wilayah-wilayah “mendekati zina”, meskipun belum pada zina (hubungan seks tak sah) itu sendiri. Tetapi, karena hal itu juga telah dilarang dilakukan, maka mendekati zina itu sudah dosa, dalam konteks kriminologis adalah kejahatan dan dalam aturan hukum pidana adalah perbuatan pidana (delik), yaitu perbuatan terlarang yang diancam dengan sanksi pidana.[24]
Terlepas dari alasan normative, pintu zina yang berupa pornografi memang harus dipersempit, mengingat implikasinya terhadap kejahatan seksual dan moral umat sangat luar biasa, bahkan menyentuh hakikat kemanusiaan yang paling dalam. Seorang perempuan yang mengalami unwanted pregnant karena pergaulan bebas yang dilecut pornografi, kamana pun pilihan ditempuh akan serba salah. Ia pilih aborsi, berarti melakukan pembunuhan. Diteruskan melahirkan, ia akan menularkan kebencian kepada manusia yang dilahirkan. Begitu banyak persoalan dapat timbul dari pornografi termasuk permasalahan yang jauh dengan hal-hal yang berbau seksual, seperti penyakit dan degradasi moral.
Fazlur Rahman pernah mengatakan bahwa terdapat suatu kebutuhan yang mendesak terhadap teori “Hermeneutika” yang akan menolong kaum Muslim untuk memahami makna Al-Quran secara utuh, sehingga baik bagian-bagian teologis maupun etis dan etika legal Al-Quran, menjadi suatu keutuhan yang padu, dengan demikian terbangunlah suatu weltaschauung Al-Quran.[25]
Hermeneutika Al-Quran adalah berkaitan dengan pemahaman (understanding) terhadap pesan Al-Quran yang akan memungkinkan bagi mereka yang beriman kepadanya dan ingin hidup dengan bimbingannya – dalam kehidupan pribadi dan kemsayarakatan mereka – untuk melaksanakan keinginan mereka secara koheren dan bermakna.
Wahyu Al-Quran merupakan respon Ilahi melalui pikiran nabi terhadap situasi-situasi sosio-moral dan histories masa Nabi.[26] Inilah yang mengantarkan Rahman untuk mengajukan teori “gunung  es yang terapung”, yang mengatakan bahwa sembilan persepuluh dari Al-Quran terendam di bawah air sejarah dan hanya sepersepuluh darinya yang nampak di permukaan.[27] Artinya kandungan Al-Qur`an yang sudah dipahami baru 1/10, sedangkan 9/10 nya lagi perlu terus digali kandungannya oleh umat Islam yang datang kemudian sesuai kebutuhan umat dan tuntutan zaman.
Manusia berbudaya, di samping mempunyai pengetahuan yang merupakan hasil pikiran, pertimbangan dan keputusan, juga memiliki kehendak bebas yang membedakannya dari makhluk lain. Kehendak pada manusia lebih merupakan modus fundamental dari kegiatan spiritual. Kegiatan dasar kehendak adalah memberikan afirmasi (penegasan) terhadap nilai atau cinta dan kebaikan.[28] Makin sungguh-sungguh seseorang sadar tentang kebebasannya, makin kuat kepastiannya mengenai realitas kebenaran, dengan demikian menjadi pasti bahwa ia menjadi tidak bebas karena ia sendiri. Kebebasan eksistensi selalu dihayati sebagai suatu “kebebasan dan keterbukaan”

Dunia merupakan produk usaha manusia, seperti syair Iqbal dalam Javid Namah, Bartari-Hari, filsuf kuno India menasihati Zinda-Rud :
Dunia yang kau lihat
Kaulah penyebab jentera pemintalmu berputar
Pun benang yang tergulung padanya
Tunduklah pada hukum imbalan perbuatan
Karena dari perbuatan terlahir neraka, pembersihan jiwa dan surga.[29]

Syair Iqbal menunjukkan bahwa Tuhan mempercayakan dunia kepada manusia untuk membentuknya menurut kehendaknya, sebagai konsekuensi lebih lanjut mereka harus bertanggung-jawab atas tindakan atau kepasifan sendiri, dan itu berarti bertanggung-jawab di hadapan Allah. Bahwa manusia dengan kesalahan-kesalahannya terdahulu – sebelum turun ke bumi --, dimaksudkan menjadi wakil Tuhan di bumi (Q.S. Al-Baqarah, 2:30). Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam dunia ada hukum yang tetap yang dapat direkayasa manusia untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfat.
Peradaban Islam – dan kebudayaan Islam – tidak lain adalah suatu hasil akumulasi perjalanan pergumulan umat Islam ketika berhadapan dengan proses dialektis antara “normativitas” ajaran wahyu yang permanen dan “historisitas” pengalaman manusia di muka bumi yang selalu berubah-ubah.[30]
Generasi pelopor Muslim sebagai bukti bahwa manusia dapat mengubah dunia dengan kekuatan kehendaknya. Kaum Muslimin purba memperoleh ilhan untuk mengadakan penyelidikan ilmiah dari Al-Quran dan Hadits Nabi dan didorong lebih lanjut oleh terjemahan karya Yunani dan sampai tingkat tertentu juga oleh terjemahan naskah Hindu.
Kaum Muslimin sangat memperluas ilmu pengetahuan dari Yunani, seperti dikutip Iqbal, Brifault (Making of Humanity, 190-202) mengatakan bahwa, “Ilmu pengetahuan adalah sumbangan peradaban Islam maha penting kepada dunia modern, tapi buahnya lambat sekali matangnya. Tidak sampai berselang lama sesudah kebudayaan Islam tenggelam ke dalam kegelapan, raksasa itu lahir kembali dengan kekuatannya. Bukanlah hanya pengetahuan semata yang membawa Eropa kembali hidup. Juga pengaruh-prngaruh lain peradaban Islam yang besar telah memancarkan sinarnya yang pertama kepada kehidupan Eropa”.[31] Ia melanjutkan, bahwa, “Orang-orang Yunani mengadakan sistematisasi, generalisasi, dan menyusun teori, namun ketekunan untuk melakukan pengamatan dan penyelidikan eksperimental yang seksama dan lama bukanlah watak mereka … Apa yang kita sebut ilmu pengetahuan muncul sebagai akibat metode eksperimen baru, yang diperkenalkan ke Eropa oleh orang Arab … Ilmu pengetahuan modern merupakan sumbangan paling penting peradaban Islam”.[32] Dengan nada serupa George Sarton mengatakan bahwa prestasi utama dan paling nyata pada abad Pertengahan adalah terciptanya semangat untuk mengadakan eksperimen dan hal ini erat berkaitan dengan kaum Muslimin sampai abad ke-12”.[33]

Sesungguhnya, kelebihan masyarakat Islam yang lebih menonjol lagi ialah di bidang teknologi. Meskipun tidak sampai pada tingkat kecanggihan seperti pada teknologi modern saat ini, namun teknologi Islam klasik adalah cikal bakal dan bibit yang mudah tumbuh dan berkembang dalam zaman modern ini, sekurang-kurangnya dalam etos dan semangatnya. Yaitu etos semangat bahwa ilmu pengetahuan baru disebut bermanfaat jika ia secara nyata mempunyai dampak perbaikan dan peningkatan hidup manusia di dunia ini, selain nilai etis dan spiritualnya (yang banyak ditekankan Al-Quran) yang akan ikut membawa kepada kebahagiaan akhirat nanti.[34]
Manfaat dan kemajuan akan diperoleh jika memenuhi tiga syarat : Pertama, ketaatan pada hukum Ilahi yang menuntut penguasaan diri dan komitmen yang tak terbatas; kedua, pengendalian diri (faqr) yang merupakan penjauhan (dari) dan keunggulan atas kepemilikan materi,[35] dan ketiga,  perwakilan Tuhan di mana “pemikiran dan tindakan, instink dan penalaran menjadi satu”.[36]
Kehidupan adalah sebagai gerakan individu dan masyarakat, dan menganggap bahwa kehendak individu merupakan kekuatan penggerak. Filsafat – termasuk di dalamnya postmodernisme – dan agama, bahkan seni, harus dinilai dari sumbangannya terhadap kehidupan. Suatu kelompok dapat bertindak hanya jika individu-individu bergerak, dan individu-individu akan berhasil hanya jika tindakannya itu mengarahkan seluruh kekuatan dan keberaniannya.
Manusia secara fungsional akan selalu berhubungan sengan suatu proses dunia yang bebas. Maka satu-satunya hidup yang dikenal adalah kehendak, usaha, kegagalan atau kemenangan – satu perkembangan yang berkelanjutan dari satu keadaan ke keadaan lainnya yang lebih baik dan menuju kesempurnaan --. Dari sudut ini, hidup adalah perubahan, dan perubahan pada dasarnya adalah ketidak-sempurnaan.[37]
Berakhirnya wahyu dan kenabian dalam Islam merupakan suatu titik di mana manusia tidak ada pilihan lain kecuali kembali kepada pengalaman dan kemampuannya sendiri. Hal ini merupakan nilai budaya dari satu ide besar Islam.[38] Untuk itu umat Islam perlu melakukan “ijtihad” yang seluas-luasnya, sebagaimana diisyaratkan Iqbal, sebagai prinsip gerak dalam Islam. Karena itu ijtihad berarti sebagai kegiatan kreatif bagi masyarakat Islam untuk menyatakan pikiran-pikiran barunya atau sebagai cara untuk menyatakan jiwanya.
Menghadapi perkembangan postmodernisme yang cenderung negatif umat Islam tidak perlu lari dari kenyataan sebagaimana umat terdahulu bergelut dengan budaya asing dan berhasil melakukan transformasi begitu maju dan menakjubkan. Pemikiran dasar postmodernisme yang memiliki tiga karakter utama dapat dijadikan sebagai “metodologi” untuk memahami agama secara luas sekaligus sebagai wahana ijtihad kolektif.
Dekonstruksi, dapat dilakukan pada wilayah “interpretasi” ajaran tertentu yang lebih besifat histories-relatif yang masih akan berkembang sesuai dengan perkembangan akal budi, dan perkembangan ilmu pengetahuan manusia, yang akan terkena proses dekonstruksi, sedangkan wilayah hard core daripada wahyu serta dimensi normativitas ajaran agama akan tetap seperti itu adanya.[39] Maka terjadinya proses dekonstruksi justru menunjukkan adanya “dinamika” keberagamaan manusia dalam arti yang sesungguhnya.
Jika dekonstruksi merambah masuk ke wilayah rivalitas kebudayaan dan peradaban. Di sini peranan pers dan media sangat menentukan tingkat positif maupun negatif  yang akan ditimbulkannya. Karena kedudukannya yang strategis dalam hal menciptakan citra pada masyarakat tidak dapat dibantah.
Misi atau dakwah yang biasanya cenderung bersifat advertensi (iklan), artinya, khalayak lebih dipersuasi dan disentuh emosinya lewat cerita-cerita yang bersifat mukjizat perlu diubah menuju proses pencerahan, yakni dihadapkan pada satu telaah faktual yang objektif.[40] Di sinilah perlunya umat beragama meningkatkan kesadaran bermedia massa sehingga tidak saja mampu menjadi mediator yang kritis dan kreatif tetapi juga profesional, dalam arti punya tanggung jawab sosial yang senantiasa memperhitungkan kemungkinan dampak yang bakal terjadi.
Pluralisme dan Relativisme, merupakan ciri khas bangsa Indonesia, baik pluralisme budaya maupun agama. Kemasan informasi agama masih sangat konvensional, terbatas pada ceramah, dialog interaktif dan pengajian-pengajian. Untuk menghidupkan keharmonisan kehidupan pluralisme agama – dan budaya – perlu dicari bentuk lain yang lebih komunikatif yang mengandung pesan agama dan persaudaraan yang mulia. Sebagai contoh, cerita tentang  persahabatan sejati sekelompok orang yang berasal dari pemeluk agama yang berbeda, kompetisi yang sehat dan positif dalam beramal shaleh (berbuat kebajikan) atau tema-tema akhlak mulia lainnya. Hal ini bisa dikemas dalam bentuk cerita sinetron, cerpen, novel, vcd dan lain-lainnya.
Pada era globalisasi budaya dan ilmu pengetahuan, klaim kebenaran (truth claim)  yang biasa melekat pada penganut agama-agama dan juga pada ilmuwan dalam berbagai disiplin yang ada, serta paradigma tunggal yang bersifat eksklusif, mau tidak mau, dapat dipastikan semakin tidak populer. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menggembosi atau melemahkan semangat dakwah, tetapi lebih pada bagaimana meningkatkan cara dan kualitas berdakwah dan melakukan misi keagamaan sesuai dengan tingkat taraf perkembangan pemikiran manusia, berkat sentuhan pendidikan  dan globalisasi informasi dalam era postmodernisme. Strategi misi dan dakwah perlu dialogis, ramah dan inklusif, sehingga dapat menyentuh persoalan-persoalan ‘kerohanian’ dan ‘spiritualitas’ manusia umumnya.
Konsepsi ajaran agama yang bersifat inklusif (rahmatan lil ‘alamin) dengan muatan nuansa-nuansa pemikiran postmodernisme jauh lebih penting untuk dikedepankan daripada hanya sekedar mengedepankan simbol-simbol dan kelembagaan agama yang seringkali sangat terasa superfisial dan partikularistik.


D. Penutup

Kehadiran pemikiran postmodernisme di tengah-tengah kehidupan manusia dan umat beragama tidak mungkin dapat dihindari, karena hal ini merupakan sebuah dinamika berpikir manusia yang tidak saja bersifat normativitas tetapi juga bersifat historisitas yang selalu mengalami perubahan dan perbaikan sesuai perkembangan dan tuntutan zaman.
Namun bagi umat Islam tidak perlu memiliki rasa khawatir yang berlebihan, karena ajaran kita memiliki aturan yang elastis, ada sisi yang tetap konvensional-permanen,  tidak pernah berubah, yakni Akidah dan Ibadah, tetapi ada pula yang selalu berubah, berkembang dan terus perlu perbaikan dan penyempurnaan, yakni pada tataran amaliah insaniyah dalam berbudaya dan berperadaban. Dua sisi keberagaman yang berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan ini perlu terus diusahakan, agar berjalan harmonis-serasi tidak timpang sehingga agama sebagai Rahmatan lil’Alamin dan peran umat sebagai hamba Allah, Abdullah (hubungan vertikal) dan penguasa bumi, Khalifah fil Ardlhi (hubungan horizontal) dapat tepenuhi.





DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Amin. Falsafah Kalam di Era Postmodernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. I, 1995

Adioutomo, Sri Murtiningsih. Perilaku Seksual Remaja dan “Media Exposure”. Makalah Lokakarya Nasional dalam rangka HUT. Ke-40 Wanita Islam, Jakarta, 2002

Ayu, Aryani Sekar . “Media Massa Untuk Perdamaian Antar Komunitas Agama” Esensia Jurnal Ilmu-ilmu Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2004

Baskara, TB. Rony R. Niti “Peranan Hukum, Agama & Media Massa dalam Menanggulangi Pornografi” .Makalah. Lokakarya Nasional dalam rangka HUT Wanita Islam Ke-40, Jakarta, 2002

Galtung, Johan “Teori Strukturalisme Imperialisme” .Makalah. Lokakarya Nasional dalam rangka HUT Wanita Islam Ke-40, Jakarta, 2002

Hodgson, Marshall G.S. The Venture of Islam: Iman dan Sejarah Peradaban Dunia. Terj. Mulyadhi Kartanegara. Jakarta: Paramadina, Cet. II, 2002

Iqbal, Mohammad. The Reconstruction of Religious Thought in Islam. London: Oxford University, 1934

____, Javid Namah. Translator: Norman Kemp Smith. New York: St. Martin’s Press, 1965

Lechte, John. Fifty Key Contemporary Thinkers: From Structuralism to Postmodernism. New York: Routledge, 1995

Madjid, Nurcholish. Kaki langit Peradaban Islam. Jakarta: Paramadina, Cet. I, 1997

Pilliang, Yasraf Amir”Hyper Pornography dalam Media Massa & Masyarakat Posmodern” .Makalah. Lokakarya Nasional dalam rangka HUT Ke-40 Wanita Islam, Jakarta, 2002

Qadir, C.A. (penyunting). Ilmu Pengetahuan dan Metodenya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1988

Rahma, Fazlur. Islam. Terj. Ahsin Muhammad. Bandung: Mizan, Cet. II, 1994

____, Neo Modernisme Islam: Metode dan Alternatif terj. Taufik Adnan Amal. Bandung: Mizan, 1992

____, Islam dan Modernitas: Tentang Transformasi Intelektual, terj. Ahsin Muhammad. Bandung: Pustaka, 1995

Asy-Syarifai, Khadim al-Haramain . Al-Qura`an Dan Terjemahnya. Makkah: Kerajaan Saudi Arabia, 1971

Turner, Bryan. Orientalism, Postmodernism & Globalism. New York: Routledge, 1994

Vahid syed ‘Abdul. Iqbal His Arts and Thought. Lahore: S. H. Ashraf, 1994

Watloly, Aholiab. Tanggung Jawab Pengetahuan: Mempertimbangkan Epistemologi secara Kultural. Yogyakarta: Kanisius, Cet. III, 2004

* Dr. Rodliyah Khuza’i, M. Ag. Adalah dosen Fak Dakwah Universitas Islam Bandung dan Pascasarjana UNISBA


 [1]Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah …
 [2] Marshall G. S. Hodgson, The Ventue of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, terj. Mulyadhi Kartanegara (Jakarta:Paramadina, Cet. II, 2002), h. 99
[3] Imperialisme adalah suatu sistem yang membagi-bagi kolektivitas-kolektivitas dan menghubungkan beberapa bagian satu sama lain dalam hubungan keselarasan kepentingan, dan bagian-bagian lagi dengan hubungan ketidakselarasan kepentingan, atau konflik kepentingan. Johan Galtung, “Teori Struktural Imperialisme”, Makalah Lokakarya Nasional  dalam rangka HUT ke-40 Wanita Islam,  Jakarta, 2002, h. 2
[4]M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Postmodernisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. I, 1995), h. 96-7
[5] Ibid.,
[6]Bryan Turner, Orientalism, Postmodernism & Globalism (New York: Routledge, 1994), h. 126
[7] Istilah dekonstruksi pada awalnya digunakan oleh Jacques Derrida (lahir 930) dalam usahanya untuk penelitian yang mendasar pada hakikat tradisi metafisik Barat dan dasar-dasar hukumnya dalam identitas terutama berkaitan dengan tradisi kebahasaan dan teks tertentu, karena menurut Derrida manusia memerlukan perantara kesadaran atau cermin bahasa untuk mengetahui dirinya dan dunia. John Lechte, Fifty Key Contemporary Thinkers: From Structuralism to Postmodernism (New York: Routledge, 1995), 106-8.
[8] M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Postmodernisme …, h. 103
[9] Jean Baudrillard (lahir 1929 di Reind), sebagai salah seorang pemikir postmodernisme sangat konsern di bidang “semiotik”. Ia memanfaatkan teori produksi dan objek yang dikembangkan Karl Marx. Ketika ia menilai politik ekonomi Marx menurutnya dipenuhi oleh konsep “semiotic”, yakni “use-value” (manfaat-nilai), dan “sign-value” (tanda-nilai). Ia juga menggunakan code (sandi) dalam membicarakan masalah-masalah sosial. Ia beranggapan bahwa penggunaan sandi mulai memasuki seluruh aspek sosial. Salah satu gejalanya adalah perlawanan mulai runtuh dan segala sesuatu menjadi tidak dapat diputuskan: antara yang cantik dan yang jelek dalam penglihatan, sayap kanan dan sayap kiri dalam politik, yang benar dan yang salah dalam media, yang bermanfaat dan tidak bermanfaat pada tingkat objek, yang alami dan budaya, semuanya dapat saling berubah dalam wilayah reproduksi dan simulasi. Lihat Jean Bauldrillard, “Postmodernity” dalam John Lechte, Fifty Key Contemporary Thinkers: From Structuralism to Postmodernism …, h. 233-6. Berbeda dengan Jean Bauldrillard yang konsern di bidang semiotic, Marguerite Duras (Lahir 1914) di Gia-Dinh dekat Saigon,Vitnam Selatan seorang feminis dan pemikir era Postmodernisme, ia memfokuskan diri dalam sastra (novel dan prosa). Dalam karya sastranya, Duras berusaha untuk membongkar batas antara kehidupan pribadi (keluarga) dan publik (politik maupun seni), antara yang simbolik dan imajinatif. Ibid., h. 237-8
[10] Yasraf Amir Pilliang, “Hyper-Pornography” Pornografi dalam Media dan Masyarkat Postmodern” Makalah Lokakarya Nasional  dalam rangka Hut Ke-40 Wanita Islam,  Jakarta, 2002, h. 1
[11] Ibid.,
[12] Ibid., h. 2
[13] TB. Ronny R. Niti Baskara, “Peranan Hukum, Agama & Media Massa dalam Menanggulangi Pornografi” Makalah Loka Karya Nasional Dalam Rangka HUT Wanitas Islam ke-40, Jakarta, 2002, h. 1
[14] Ibid., h. 2
[15] Yasraf Amir Pilliang, “Hyper Pornograhy dalam Media & Masyarakat Posmodern”, Makalah …, h. 4
[16] Ibid., h. 10
[17] Sri Murtiningsih Adioetomo “ Perilaku Seksual Remaja dan “Media Exposure”, Makalah Lokakarya Nasional dalam Rangka Hut ke-40 Wanita Islam, Jakarta, 2002, h. 7
[18] Mohammad Iqbal, The Reconstruction of  Religious Thought in Islam (London: Oxford University, 1934), h. 2
[19] Ibid., h. 134
[20] Fazlur Rahman, Islam, terj Ahsin Muhammad (Bandung: Pustaka, Cet. II, 1994
[21] Ibid.,
[22] Ibid., 40
[23] Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. Q.S. Al-Isra`, 17: 32
[24] TB. Ronny R. Nitibaskara,” Peranan Hukum, Agama & Media Massa dalam Menanggulangi Pornografi” …, Makalah, h. 7
[25] Fazlur Rahman Metode dan Alternatif Neomodernisme, penerjemah dan penyunting Taufik Adnan Amal  (Bandung: Mizan, 1987), h. 54-5
[26] Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas: Tentang Transformasi Intelektual, terj. Ahsin Muhammad (Bandung: Pustaka, 1995), h. 6, 10
[27] Ibid., 56-7
[28] Aholiab Watloly, Tanggung Jawab Pengetahuan: Mempertimbangkan Epistemlogi secara kultural (Yogyakarta: Kanisius, Cet. I, 2004), h. 164
[29] Mohammad Iqbal, Javid Namah, terj Arthur A. Arberry (London: Allen and Unwin, 1966), h. 77
[30] M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Postmodernisme, … 3
[31] Mohammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam …, h. 124
[32] C.A Qadir, Pengembangan Ilmu Pengetahuan di Kalangan Muslim “Kata Pengantar” dalam C.A Qadir, penyunting, Ilmu Pengetahuan dan Metodenya (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1988), h. 2
[33] Ibid.,
[34] Peradaban (II) Telaah atas keadaan iptek Islam klasik dalam Nurcholish Madjid, Kaki Langit Peradaban Islam (Jakarta: Paramadina, Cet. I, 1997), h. 15
[35] Syed ‘Abdul Vahid, Iqbal, His Art and Thought (Lahore: S.H. Ashraf, 1944), h. 49
[36] Ibid., h. 61
[37] Mohammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Though in Islam …, h. 56
[38] Ibid., 120
[39] M Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Postmodernisme …, h. 108
[40] Aryani Sekar Ayu,”Media Massa untuk Perdamaian antar Umat Beragama” dalam Esensia Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, UIN Yogyakarta, 2003, h. 296
Yanto Permana

Kajian ROmantikA 2011

KAJIAN ROmantikA 2011
Kajian Fiqh, Filsafat, dan Tashawwuf



A. Pengantar

Bismillahirrahmanirrahim
Al-Hamdu Lillahil Ladziy Asyraqa Qulubal ‘Arifina bi Tasyriqi Nuril Imani. Wash Shalatu was Salamu ‘Ala Muhammadin Sayyidil Mursalina Wa ‘ala Alihi Wa Shahbihi Ajm’ina Amma Ba’du

Kami memulai penulisan ini melalui permulaan dengan memohon pertolongan kepada Dzat yang memiliki nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji dipunyai oleh Allah yang membeningkan hati orang-orang yang mengenalnya dengan pembeningan hati yang tercahayai kilauan cahaya iman. Rahmat dan sejahtera semoga menetap pada Muhammad pemimpin para utusan Allah, juga semoga tetap pada keluarga dan para sahabat beliau semuanya. Adapun setelah itu :

Konsep Kajian “ROmantikA” berpangkal tolak dari visi dan misi DARUL MANTHIQ yang mengedepankan pemikiran penghampiran Fiqh, Filsafat, dan Tasawuf tentang ajaran Al Islam serta menjadi pusatkan pemantapan pribadi yang tahu, mau, dan mampu melaksanakan Syari’ah, aqidah, dan akhlaq Al–Quran menurut Sunnaturrasulullah Saw. Diharapkan Kajian ROmantikA mampu membina peserta supaya kokoh pemikiran penghampiran Fiqh, Filsafat, dan Tashawwuf, sehingga Tahu, Mau, dan Mampu bersyari’ah, beraqidah, dan berakhlaq berasal dari Al Qur’an menurut Sunnaturrasulullah Saw. Mengembangkan potensi-fitrah para peserta dalam perjuangan menuju kemaslahatan hidup dunia-akhirat. Melayani para peminat pengembang paradigma dan analisis ajaran Al-Islam yang telah ngancik (mempersonifikasi) dalam dirinya, guna pemapanan dan pemantapan mengenal dan dekat kepada Allah Swt. Serta dapat menciptakan situasi dan suasana kehidupan beragama Islam dalam diri sendiri, keluarga dan masyarakat.


B. Muqaddimah

Kajian ROmantikA yang menyelenggarakan Kajian Fiqh, Filsafat, dan Tashawuf, Penerbitan Buletin, Jurnal dan Buku. Serta Penelitian dan Pelatihan berjalan berdasarkan konsep DARUL MANTHIQ: Ruang Pergolakan Pandangan dan Sikap Hidup Melalui Penghampiran Fiqh, Filsafat dan Tashawuf.

Konsep Kajian ROmantikA menyangkut dasar filosofis arah yang ingin diraih, kualitas proses dan produk yang diidealkan, karakteristik komponen Kajian serta berbagai pendukung yang diperlukan Kajian.

Kejelasan konsep Kajian ROmantikA: Kajian Fiqh, Filsafat dan Tashawuf berfungsi sebagai petunjuk arah berbagai kegiatan yang dikembangkan dan sekaligus dijadikan sebagai pemersatu sumber inspirasi dan kekuatan penggerak bagi semua tim dan peserta kajian yang ada.

Idealita Kajian ROmantikA: Kajian Fiqh, Filsafat dan Tashawuf, diharapkan tegak dan teguh bertopang pada konsep yang jelas, utuh dan komprehensif, namun akhir-akhir ini secara realita yang baru dapat dijalankan baru kegiatan-kegiatan parsial, itupun baru berdasarkan pada tradisi atau kebiasaan yang manual.



C. Filosofi Kajian RomantikA
  1. Adalah Kajian yang mengedepankan berpikir berpenghampiran fiqh, filsafat dan tashawwuf. Penguasaan ilmu yang luas, pandangan yang tajam, aqal yang cerdas qalb yang lembut dan semangat beramal soleh;
  2. Komunitas Kajian adalah orang yang berfiqh, berfilsafat dan bertashawuf;
  3. Komunitas Kajian berorientasi hidup menggapai ridha Allah Swt Awj
  4. Identitas Kajian ROmantikA dibangun melalui perjalanan Kajian Penghampiran Fiqh, Filsafat, dan Tashawuf. Penerbitan Buletin, Jurnal dan Buku. Serta Penelitian dan Pelatihan


D. Ukuran Keberhasilan Kajian ROmantikA

  1. Berpandangan dan bersikap bahwa keberhasilan tidak sekedar terletak pada kekuatan kebutuhan jasmani, melainkan keselamatan dan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi sekaligus
  2. Menyakini kehidupan jasmani dan ruhani, dunia dan akhirat, keduanya sebagai dimensi kehidupan yang harus dan dapat menyeimbangkan hidup.
  3. Kajian ROmantikA dengan Kajian Fiqh, Filsafat, dan Tashawuf. Penerbitan Buletin, Jurnal dan Buku. Serta Penelitian dan Pelatihan dapat mengantarkan seseorang menjadi manusia terbaik sehat jasmani dan ruhani; dan dapat mengantarkan seseorang beridentitas;
  4. Berpikir berpenghampiran fiqh, filsafat dan tashawuf
  5. Berilmu pengetahuan yang berwawasan luas dan berkewawasan lebar-menyebar dalam berfiqh, berfilsafat, dan bertashawwuf; Berpandangan tajam; Berdzauq lembut serta sensitif; Bersemangat beramal sholeh



E. Orientasi Kajian ROmantikA

  1. Membina manusia agar menjadi manusia yang sebenar-benarnya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Swt Awj wa Rasulihi Saw.
  2. Berpandangan dan bersikap hidup secara fiqhi, filsafi, dan sufistik yang berdasarkan Tauhid.


F. Pendekatan Kajian ROmantikA

Berpikir benar dan tepat atas dasar pengembangan pikir melalui fiqhi, dzikir melalui filsafi dan amal sholeh melalui tashawufi.



G. Budaya Kajian ROmantikA

  1. Komunitas yang bergejolak dalam pandangan dan sikap yang berdimensi lahiriah maupun batiniah dan ruhaniah
  2. Suasana yang dinamis, penuh kekeluargaan, kerjasama, seta saling menghargai sebagai sumber inspirasi dan kekuatan harakah menuju ke arah kemajuan ruhaniah, spiritual, intelektual dan profesional (rasional dan logis) dengan tetap pada berpikir yang benar dan tepat sebagai manusia yang sebenar-benarnya manusia sebagaimana yang dikehendaki Allah Swt Awj dan Rasul-Nya Saw.


H. Struktur Keilmuan Kajian ROmantikA (Darul Manthiq)


I. Komponen Kajian ROmantikA
  1. Pengurus, tim dan komunitas berpandangan dan bersikap hidup guna memperoleh keridhaan Allah swt awj.
  2. Pengurus, tim dan komunitas memiliki kesamaan tujuan berupa sama-sama menggapai ridha Allah Swt Awj yang tampil dalam saling mencintai dan menghargai di antara seluruh komunitas Darul Manthiq dan dengan lingkungan serta sekitarnya secara akrab dan lembut.


J. Pengurus Kajian ROmantikA

Direktur Kajian : Yanto Permana
Sekretaris   : Asep Dien Nurjaman, S.Pd.I
Bendahara  : Bubun Bunyamin, S.Pd.I
Sie. Kajian  : Ardiansyah, S.Sos.I
                   : Rahmat Sybli, SH.I
Sie. Penerbitan Buletin, Jurnal dan Buku
                   : Elva Garthika Ramadhan, SH
                   : Firdaus Abdul Azis
Sie. Penelitian dan Pelatihan
                   : Dodi Ferdiana, S.Pd.I   


Job Deskripsi Pengurus Kajian ROmantikA

1. Direktur Kajian
1.Bertanggungjawab terhadap semua, operasional, personal, kebijaksanaan, baik yang berkaitan dengan akademik, Konsumsi, sarana prasarana maupun managerial dan finansial
2.Merencanakan, mengkoordinir, meng-organisir, mengontrol semua pelaksanaan program “Kajian ROmantikA” Yayasan Darul Manthiq
3. Memberikan masukan baik usulan, mencari ruang dan peluang penjagaan dan pengembangan maupun pembia-yaan serta mengevaluasi dan mengon-trol kelangsungan program “Kajian ROmantikA” Yayasan Darul Manthiq
4. Menata dan melaksanakan managerial: a).Administrasi Umum dan Keuangan; b).Administrasi Akademik; c).Operasional relasi (kerjasama) dan publikasi; dan d).Penggunaan dan Penyiapan Sarana dan Prasarana.
2. Sekretaris
1).Penyiapakan buku-buku administrasi
2).Membuat form-form yang diperlukan    (kartu  komunitas kajian dll)
3).Menerima pendaftaran, konsultasi      informasi  kajian dll.
4).Melaksanakan mengelola keuangan    (kalkulasi penerimaan dan pengeluaran Rencana Anggaran Belanja, Rencana Anggaran Pelaksanaan, Profit sharing dengan fihak yayasan
5) membuat database seluruh anggota komunitas kajian ROmantikA.
3. Bendahara
1).Mencari sumber dana untuk kajian dan kegiatan lainnya
2) Menghimpun infak shodaqoh dan zakat dari seluruh pengurus, tim dan komunitas kajian yang ada
3) mengalokasikan dana yang ada untuk keperluan kajian
4) Membuat perencanaan anggaran Kajian tahunan

4. Sie. Kajian  
1).Merencanakan kajian: jadwal; tema, pengkaji, waktu dan tempat
2).Menyediakan keperluan di ruang kajian; Papan tulis, alat tulis dan buku-buku bacaan sebagai referensi;
3).Membuat proposal kerjasama;
4).Melakukan koordinasi dengan pesantren, madrasah, sekolah, masjid dan kelompok kajian lainnya;
5) Mengkomunikasikan legalitas program “Kajian ROmantikA” Yayasan Darul Man-thiq ke Intansi yang terkait
Sie. Penerbitan Buletin, Jurnal dan Buku
1. Mendokumentasikan hasil kajian, baerupa tulisan rekaman suara atau audio visual
2. membuat dan menerbitkan buletin, jurnal dan buku
3. mempublikasikan hasil kajian ke publik
Sie. Penelitian dan Pelatihan
1. mengadakan penelitian terhadap kasus dan problem yang terjadi di masyarakat
2. menyelenggarakan penelitian terhadap al-Quran dan assunah
3. menyelenggarakan penelitian terhadap referensi buku-buku yang ada
4. melakukan penelitian terhadap instansi


Daftar Tim Pengkaji Kajian ROmantikA

No
Nana-nama Pengkaji
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
K.H. Hulaemi Hatami, MA.
Prof. Dr. H. Ahmad Tafsir, MA.
Shabar Al-Ghazal, Drs., M.Pd.
Dr. M. Wildan Yahya, M.Pd.
Dr. Jaih Mubarok, MA.
Dr. Abdul Razak, MA.
AM. Rasyid, Drs., M.Ag.
K.H. E. Fachrudin Masthuro.
Lilis Bahitsah Al Badriyah, BA
Apih Yanto
Bubun Bunyamin, S.Pd.I
Deden Sholahuddin, S.Pd.I
Anton Budiman, S.Pd.I
Rahmat Faqot Sibly, SH.I
Iwan Nurdiawansyah, S.PdI
Asep Dien Nurjaman, S.Pd.I
Cahaya Iman Sukmana
Elva Garthika Ramadhan, SH
Asep Supriatna, S.Pd.I
Alfin Ramadhian, S.Pd.I
Dodi Ferdiana, S.Pd.I
Andri Setiawan
Adi Permana
Adi Yudistira , S.Sos.I
Eka Falasifa Islamica
Ari keke , S.Pd.I
Marbun, S.Pd.
Dziki Abdul Halim, S.Sos.I
Asep Zikri, S.Sos.I
Eka. S.Pd.I




J. Bahasa Pergaulan Kajian ROmantikA

  1. Pengurus, tim dan komunitas baik individual maupun kolektif adalah representasi atau cermin kebesaran dan kewibawaan Islam
  2. Pengurus, tim dan komunitas berbusana dan menggunakan bahasa rasional dan logis yang mencerminkan harkat dan derajat serta martabat islam yang agung dan tinggi.
                                            

K. Manajemen Pengelolaan dan Pengembangan Kajian ROmantikA

  1. Penataan dan pengelolaan atau pengaturan seluruh kegiatan Kajian Penghampiran Fiqh, Filsafat, dan Tashawuf. penerbitan Buletin, Jurnal dan Buku. Serta Penelitian dan Pelatihan
  2. Upaya menumbuh-kembangkan Kajian ROmantikA (baik fisik maupun matafisik) agar tahap demi tahap mengalami kemajuan


L. Program Kajian ROmantikA

A. Kajian Fiqh, Filasafat dan Tashawuf
Pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan rasio ideal guru; siswa dan dibantu infrastruktur beserta piranti lowak multimedia. Tutorial dilakukan disetiap saat dan dimana saja. Untuk menunjang proses tersebut disediakan literature, sumber informasi media, diklat, dan evaluasi.

B. Penerbitan Buletin, Jurnal dan Buku 
Dilaksanakan sebagai salah satu produk kajian dan sekaligus sebagai penjelasan, kesimpulan sementara dan solusi terhadap permasalahan yang terjadi di masyarakat. Juga sebagai bahan kajian dan penelitian selanjutnya. Penerbitan ini dilakukan secara priodik.

C. Penelitian dan Pelatihan
Dilakukan untuk mencari data, informasi dan keterangan tentang permasalahan yang terjadi dan meningkatkan pemahaman serta keterampilan, juga mempertajam kecerdasan intelektual dan spiritual.


M. Jadwal Kajian 2011

Tema
Pengkaji
Waktu & Tempat
Bulan



Januari



Februari



Maret



April



Mei



Juni



Juli



Agustus



September



Oktober



November



Desember



N. Jadwal Penerbitan 2011

Buku
Jurnal
Buletin
Bulan



Januari



Februari



Maret



April



Mei



Juni



Juli



Agustus



September



Oktober



November



Desember



O. Jadwal Penelitian dan Pelatihan 2011

Pelatihan
Penelitian
Waktu & Tempat
Bulan



Januari



Februari



Maret



April



Mei



Juni



Juli



Agustus



September



Oktober



November



Desember



P. Pendanaan

  1. Anggaran Kajian 2011
NO
Kajian
Biaya
UNIT
TOTAL
1
Fiqh  
2.000.000,00
4
8.000.000,00
2
Filsafat
2.000.000,00
4
8.000.000,00
3
Tashawuf
2.000.000,00
4
8.000.000,00
Jumlah Total


24.000.000,00

  1. Anggaran Penerbitan Buletin, Jurnal dan Buku 2011
NO
Penerbitan
Biaya
UNIT
TOTAL
1
Buletin
200.000
50
1.000.000
2
Jurnal
1.000.000
12
12.000.000
3
Buku
5.000.000
3
15.000.000
Jumlah Total


28.000.000

  1. Anggaran Penelitian dan Pelatihan 2011
NO
Penerbitan
Biaya
UNIT
TOTAL
1
Penelitian
2.000.000
2
4.000.000
2
Pelatihan
4.000.000
4
16.000.000
Jumlah Total


20.000.000



L. Penutup
Konsep Kajian ROmantikA yang bertolak dari Konsep DARUL MANTHIQ: Ruang Lingkup Pergolakan Pandangan dan Sikap Hidup melalui Penghampiran Fiqh, Filsafat dan Tashawwuf ini masih memerlukan pengajian dan pengkajian yang seksama.



PARAMANTIKA
Kajian ROmantikA Kajian Fiqh, Filsafat dan Tashawwuf
Yayasan Darul Manthiq Gema Islam Rasional - Logis Bagi Umat

Sekretariat . “Rumah Akal”  G.40 Yayasan Darul Manthiq Padasuka Indah II
Gadobangkong Ngamprah Bandung
Copyright © 2011 NEO-ROmantikA .Modified by : motekar .All Rights Reserved.